Kamis, 22 April 2010

Menanam Jati Membangun Kebersamaan Karyawan BPDAS Solo
(pengalaman membangun jiwa korsa rimbawan
)

oleh
Bantara
PEH DAS

Aktifitas dan kekuatan hidup setiap insan dari waktu ke waktu akhirnya harus disadari dan mau menerima akhir perimbaan hidup seseorang, masuk pada komunitas baru yang disebut Pensiun. Pensiun akan terjadi bagi profesi apapun karena ketentuan atau keterbatasan fisik, baik profesi Pegawai Negeri Sipil (PNS), Pegawai Swasta, Wirausaha, atau Petani sekalipun.
Kesiapan menghadapi pensiun menjadi penting, takkala diujung pengabdian sudah menjadi kesadaran bagi setiap pekerja dimasa aktif. Maka kebesaran jiwa harus menjadi dasar agar upaya menyongsong kondisi dan situasi pensiun tersebut perlu belajar dan dipersiapkan jauh hari dikala sebagai karyawan/pekerja aktif (muda).
Seringkali kita beranggapan bahwa pensiun adalah saat untuk bermalas-malasan, dan hidup Mantab (makan tabungan) dll. Namun menurut Martina Wiwie Nasrun, dokter spesialis kesehatan jiwa yang mendalami bidang geriatri, mereka yang memiliki konsep seperti itu biasanya malah tak bahagia. "Konsep pensiun identik dengan enak-enakan itu hanya berhasil beberapa bulan, setelah itu mereka justru tak bahagia," ujarnya. Salah satu persiapan penting pensiun yang berpengaruh pada mental orang adalah menciptakan aktivitas rutin yang baru.
Partisipasi Rimbawan
Pada dasarnya alam memberikan manfaat yang begitu berlimpah bagi kehidupan manusia, termasuk kita Rimbawan Departemen Kehutanan. Maka, sebagai rimbawan juga sepantasnya terpanggil untuk melestarikanya, lestari karena lingkungan yang menjadi sejuk, lestari kebutuhan akan kayu serta hasil ikutanya, lestari budaya yang menghargai lingkungan hidup dan tidak kalah penting sejahtera keluarga.
Model rehabilitasi secara mandiri karyawan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Solo merupakan panggilan jiwa karyawan secara mandiri, sebagai bukti kesadaran dan tanggungjawab sebagai PNS BPDAS yang secara sederhana termanivestasikan dalam bentuk usaha tanam menanam. Mandiri disini mengandung arti bahwa lahan, bibit, pemeliharaan diperoleh dengan cara iuran dari masing-masing pegawai yang bergabung dalam penanaman Jati, dengan cara ini PNS BPDAS merasakan jerih payah dan tanggungjawab sebagimana yang juga dilakukan oleh petani pada umumnya. Kegiatan sederhana ini merupakan bentuk partisipasi aktif dalam mendukung program rehabilitasi dan mensukseskan program pengurangan pemanasan global, dan lebih penting dari itu model penanaman jati secara bersama menjadi pengikat dan media keakraban sesama profesi rimbawan untuk saling berinteraksi dengan rasa kekeluargaan yang berpengharapan selalu saling menguatkan. Pola penanaman bersama juga menyiapkan diri atas kesadaran, bahwa ujung pengabdian profesi pasti berakhir (pensiun).
Tabungan 4 milyard
Usaha Bersama Jati karyawan BPDAS Solo telah dimulai sejak tahun 2002 dan berjalan hingga sekarang. Awal pelaksanaan kegiatan ini diawali oleh kesepakatan 4 (empat) karyawan BPDAS Solo yaitu Saudara Sigit, Condro, Sri Cahyo dan Idi Bantara. Cara yang dilakukan dengan membeli sebidang lahan dan terjangkau, baik luas dan harganya. Upaya dan tekad tersebut akhirnya terwujud mendapatkan lahan kritis di Desa Beji Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri seluas 1 (satu) ha dengan harga Rp. 21 juta. Kegiatan penanaman bersama ini ternyata mendapat respons positif dari beberapa karyawan lainya dan terus berkembang, sehingga lahan yang dimiliki saat ini telah tercatat kurang lebih seluas 5 ha, sedangkan peserta kegiatan yang berpartisipasi sebanyak 21 karyawan BPDAS Solo, dan masih banyak yang berminat berasal dari BPDAS dan UPT kehutanan lainya.
Proses pengembangan usaha bersama ini, dibangun secara kesadaran bersama dengan cara iuran sebesar Rp.5.550.000.- / anggota, sedangkan cara memperoleh iuran difasilitasi oleh kredit koperasi karyawan BPDAS Solo. Uang yang terkumpul dijadikan modal pembelian tanah, persiapan lapangan, penanaman serta pemeliharaan kebun jati. Sasaran tanah yang dibeli adalah lahan di hulu pedesaan yaitu berupa tanah yang sudah tidak produktif untuk usaha tani (kritis) atau juga lahan tidur (bero), dengan asumsi, bahwa kondisi tanah seperti itu harganya relatif murah per satuan lauasnya, sehingga prinsip kami dalam penanaman bersama ini yaitu “membeli lahan yang semurah-murahnya tetapi mampu menghasilkan tegakan sebanyak banyaknya”,. Pelajaran yang diperoleh dalam proses penanaman pada lahan kritis membangun sikap kita untuk belajar mempraktekan pengetahuan silvikultur hutan rakyat secara nyata, sehingga upaya yang kita lakukan adalah bagaimana caranya supaya tanaman jati dapat tumbuh dan berkembang menjadi tegakan yang baik, dan dapat dijadikan acuan bagi masyarakat petani jati lainya.
Lokasi penanaman hutan rakyat karyawan BPDAS Solo menyebar di beberapa lokasi, diantaranya berada di Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri seluas ± 2,1 ha, Kecamatan Gemolong Kabupaten Sragen seluas ± 3,3 ha dan Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi ± 1200 m2. Masing masing lokasi telah menjadi tanah milik dan bersertifikat, sedangkan model pemilikan adalah pemilikan bersama, yang dikuatkan dengan cara dicatatkan di Notaris, berupa kesepakatan yang menyatakan, bahwa lahan milik atas nama yang tersebut dalam sertifikat dengan nomor....adalah wakil pemilikan pemilikan anggota (ditulis nama lengkap dan alamat) serta ahli warisnya.
Pola pengembangan, bahwa lahan telah disepakati menjadi milik bersama (21 karyawan) dan hasilnya akan juga dibagi secara bersama. Harapan dari model yang dibangun dapat mewujudkan tegakan jati yang berkualitas dan mampu bersaing di pasaran. Pemanenan jati akan dilakukan setelah tanaman umur 15 tahun (pra pensiun), hasil penebangan disepakati untuk dibagi secara bersama, demikian juga hasil penjualan lahanya. Hasil kegiatan dan kekayaan merupakan hasil dan rasa syukur dalam upaya menambah bekal masa pensiun (baca seperti TASPEN). Apabila tanaman jati nantinya berkembang dan berhasil sesuai dengan rencana kegiatan, maka karyawan BPDAS Solo telah memiliki tegakan sisa, dan setelah dikurangi penjarangan dan kematian masih ada sekitar 800 pohon /ha. Mengacu harga jual kayu jati saat ini yang berjalan di pasaran kayu rakyat, harga pohon berdiri pada umur 15 tahun dan kondisi sehat normal (tidak cacat) tercatat harga setiap pohonya memiliki rata rata nilai pohon sebesar Rp. 1000.000.- (satu juta rupiah), dengan demikian stok kayu karyawan BPDAS Solo nantinya telah mampu menyiapkan dana pensiun sebesar minimal Rp. 4.000.000.000 (empat milyar rupiah), namun apabila harga pada tahun ke-15 nantinya harga naik, tentu nilai pendapatan juga akan lebih besar dari nilai saat ini.
Keuntungan
Model penanaman jati karyawan BPDAS Solo ini juga dapat dijalankan di semua komunitas atau organisasi dimanapun berada, baik itu komunitas PNS, swasta, kumpulan RT, masyarakat hulu DAS dll, apabila semua pengelolaan lahan dilakukan dengan cara bersama (coorporation) ini dapat berjalan, maka pemerintah tidak perlu banyak direpotkan lagi dengan dana yang besar, tetapi justru dengan kesadaran dan pemahaman akan masa depannya, maka masyarakat akan dapat berpartisipasi aktif melestarikan alam sekaligus menabung untuk mereka dan keluarganya secara mandiri.
Keuntungan yang pasti diperoleh dari kegiatan investasi berkebun tanaman kayu-kayuan (hutan rakyat) yaitu : 1) secara fisik akan diperoleh stok kayu, 2) nilai bunga tanah yang berkembang, 3) peningkatan kesuburan tanah dari siklus hara alami, 4) meningkatkan pemasukan air hujan ke dalam tanah (infiltrasi) melalui akar-akar tanaman, menyimpan dalam tanah selama mungkin, menyalurkan secara pelan, secara otomatis telah membantu siklus hidrologi secara baik, 5) kayu bakar dari ranting-rantingnya yang tidak sedikit, 6) daun dan buah yang mungkin dapat dimanfaatkan bagi sesama, 7) berkembang biaknya satwa dan kehidupan lainya, dan masih banyak keuntungan lainya.
Selain keuntungan fisik diatas, secara psikis (ketentraman jiwa) keuntungan yang diperoleh yaitu : 1) hijauan pohon-pohon (hutan) merupakan sarana penghiburan yang murah, segar dan sehat, 2) kebun kayu atau biasa disebut hutan rakyat berbeda teknik pengelolaan dengan kebun buah-buahan, maka hutan rakyat relatif aman dari pencurian. Rasa aman merupakan hal penting dalam penjaminan terhadap investasi, dan hingga saat ini jarang didengar ada pencurian kayu rakyat. 3) pengalaman mengelola hutan rakyat menjadi tambahan ilmu pengetahuan yang dapat ditularkan, sehingga menambah kepercayaan baru bagi pensiunan untuk menjadi narasumber bagi komunitas baru yang berminat, 4) aktifitas berkebun selalu terjalin interaksi aktif dengan sesama petani pohon disekitar kebun atau kelompok tani, hasil investasi berupa kayu akan menjalin hubungan usaha baru dengan penebang kayu dan pengusaha kayu, dan lain sebagainya, 5) memberikan kebahagiaan dan kesejahteran bagi keluarga dari hasil penjualan stok kayu dan lainya, 6) bila harus ditinggalkan sebagai warisan, maka warisan tersebut akan menjadi prasasti yang dikenang dengan sangat hormat oleh keluarga dan keturunannya, 7) secara rohani telah melakukan ibadah akan penyelamatan anugerah Sang Pencipta berupa pemeliharaan alam, dll.
Demikian besar manfaat Usaha Bersama Jati Karyawan, dimana pohon-pohon dalam hutan rakyat akan memberikan kenangan indah dari jerih payah semasa aktif (sebelum pensiun). Usaha Bersama Jati Karyawan memberikan perasaaan hormat bagi diri, dan rasa syukur yang mendalam dari upaya anak manusia yang sadar akan kehidupan. Lukisan dalam sekumpulan pohon miliknya, cerminan pancaran kebahagiaan atas karya yang tersisa, sehingga akan dapat menumbuhkan aura semangat baru sebagai obat yang menjadi daya hidup pensiunan, atau dengan kata lain akan lebih enjoy. Lebih penting dari itu, hijauannya dan lambaian daun hutan rakyat menumbuhkan pujaan syukur atas karunia yang melimpah-limpah dalam jiwa dan sanubari para pensiunan kelak.
Kapan sebaiknya kita mulai merencanakan dan melaksanakan Usaha Bersama Jati Karyawan, atau jenis lainya? ... Secara pasti memang tidak ada waktu yang paling tepat untuk memulainya, akan tetapi semakin cepat menyisihkan dana, akan semakin baik dan semakin banyak pilihan lahan yang dapat direncanakan. Tentu sebaiknya juga mempertimbangkan sisa waktu aktif, sehingga pilihan jenis tanaman dapat disesuaikan dengan teknik dan peluang pasarnya. Tetapi, kalau investai tersebut ditujukan untuk tambahan kegiatan dan hasilnya menjadi warisan bagi anak dan cucu serta keluarga, tentu pertimbangan yang diambil lebih mudah, artinya panen cepat bukan tujuan utama, namun kebahagian keluarga dan rasa membangun ikatan kebahagian lestari menjadi tujuannya. Tidak hanya sebatas impian tapi kenyataan, demikian juga rimbawan dimanapun secara bersama dapat merencanakannya dari sekarang, semakin muda usia karyawan semakin besar nilai manfaat yang diperoleh. Penghasilan yang bagus di masa muda hendaknya jangan menjadikan kita lupa dan sengsara dimasa tua.
Segera rencanakan dana pensiun kita dengan pola rehabilitasi yang menjadi cermin kehidupan dan kebersamaan Rimbawan Depertemen Kehutanan dan siap melakukan secepatnya untuk memperoleh masa pensiun yang membahagiakan bagi sesama, sehat dan damai bersama untuk Alam Indonesia, semoga juga terbebas dari kesulitan finansial di kala tua.
”Hidup Rimbawan Masa Depan”.